Oleh : Fakhirotil Azkiyya (17)
Kelas : X-MIPA 1
Penerapan
Konsep Redoks dalam Pengolahan Limbah
“Lumpur
Aktif”
Proses lumpur aktif (activated sludge) merupakan sistem yang
paling banyak digunakan untuk penanganan limbah cair menggunakan proses Redoks.
Metode Lumpur Aktif merupakan sistem yang dipakai untuk penanganan limbah
secara Aerobik. Metode Lumpur Aktif memanfaatkan mikroorganisme untuk mengurai
material pada air limbah. Metode ini efektif untuk menyingkirkan bahan – bahan
yang terlarut dari air limbah.
Reaksi pada Lumpur Aktif
Pada tahap sekunder
terjadi proses peurunan nilai BOD sehingga kadar oksigen meningkat. Proses ini
melibatkan reaksi oksidasi limbah organik.
Tahapan
Metode Lumpur Aktif
1. 1. Tahapan Awal
Pemisahan benda-benda asing ( pasir & kerikil) yaitu sisa sisa partikel digiling agar tidak
merusak alat dalam sistem limbah campur agar laju aliran dan konsentrasi
partikel konsisten
2. 2. Tahap Primer (pengendapan)
Partikel-partikel berukuran suspensi dan partikel-partikel
ringan dipisahkan. Sedangkan partikel-partikel berukuran koloid digumpalkan
dengan penambahan elektrolit.
3. 3. Tahapan Sekunder
Tagapan ini dibagi menjadi 2 yaitu :
a)
Tahap Aerasi ( metode lumpur aktif)
Aerasi oksigen ditambahkan ke dalam
air limbah yang sudah di campur lumpur aktif, materi organik dan anorganik
kemudian diuraikan menjadi senyawa yang mudah menguap (sehingga mengurangi bau
air limbah).
b)
Pengendapan
Lumpur aktif akan mengendap kemudian
dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya di buang. Lumpur yang mengendap disebut “Lumpur Bulki”
4. 4. Tahap Tersier (pilihan)
Memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah ingkungan.
Contoh :
Ø
Amonia (NH3/NH4) à Nitrat (NO3)
Ø
Penyaringan mikro untuk memisahkan partikel kecil
(bakteri/virus)
Ø
Pemisahan fosfor
2NH4+ (aq) + 3O2 (g)
→ 2NO– (g) + 2 H2O (l) + 4H+ (aq)
2NO2– (aq) + O2 (g)
→ 2NO3 (aq)
Kemudian nitrat mengalami reduksi menjadi gas N2, NO, serta
NO2 yang disebut dengan proses denitrifikasi. Setelah itu
fosfor dipisahkan dengan proses koagulasi menggunakan garal Ca dan Al sehingga
dihasilkan gumpalan.
Pada
tahap ini zat pencemar diadsorpsi dari limbah, termasuk juga bau yang tidak
sedap dan pewarna dari limbah itu sendiri. Setelah itu dilakukan juga
penyerapan dan penyaringan partikel yang lebih kecil seperti bakteri dan virus
sehingga limbah cair dapat dibuang dan aman bagi lingkungan.
5. 5. Disinfetan
Menghilangkan mikroorganisme seperti virus serta materi
organik penyebab bau dan warna. Air yang keluar dari tahap ini dapat digunakan
untuk irigasi atau keperluan industri.
6. 6. Pengolahan Padat Lumpur
Padatan lumpur ini dapat diuraikan bakteri aerobik atau
anaerobik
è
Menghasilkan gas CH4 untuk bahan bakar dan pupuk
Kelemahan:
a. A. Memerlukan area yang luas, karena prosesna berlangsung
lama.
b. B. Menimbulkan limbah baru, yaitu “lumpur bulki”.
c. C. Prosesnya rumit karena membutuhkan pengawasan ketat.
Sekian dari saya, jika ada kesalahan maklumi saja, karena pemula.... Wk :)
Sumber: https://prezi.com/feqt-tr1h8sl/penerapan-reaksi-redoks-dalam-pengolahan-limbah-lumpur-akti/
Sekian dari saya, jika ada kesalahan maklumi saja, karena pemula.... Wk :)
Sumber: https://prezi.com/feqt-tr1h8sl/penerapan-reaksi-redoks-dalam-pengolahan-limbah-lumpur-akti/