Senin, 23 Maret 2020


Oleh : Fakhirotil Azkiyya (17)
Kelas : X-MIPA 1
Penerapan Konsep Redoks dalam Pengolahan Limbah
“Lumpur Aktif”
                       Proses lumpur aktif (activated sludge) merupakan sistem yang paling banyak digunakan untuk penanganan limbah cair menggunakan proses Redoks. Metode Lumpur Aktif merupakan sistem yang dipakai untuk penanganan limbah secara Aerobik. Metode Lumpur Aktif memanfaatkan mikroorganisme untuk mengurai material pada air limbah. Metode ini efektif untuk menyingkirkan bahan – bahan yang terlarut dari air limbah.

Reaksi pada Lumpur Aktif


             Pada tahap sekunder terjadi proses peurunan nilai BOD sehingga kadar oksigen meningkat. Proses ini melibatkan reaksi oksidasi limbah organik.
Tahapan Metode Lumpur Aktif
1.  1.    Tahapan Awal
Pemisahan benda-benda asing ( pasir & kerikil)  yaitu sisa sisa partikel digiling agar tidak merusak alat dalam sistem limbah campur agar laju aliran dan konsentrasi partikel konsisten



2.   2.   Tahap Primer (pengendapan)
Partikel-partikel berukuran suspensi dan partikel-partikel ringan dipisahkan. Sedangkan partikel-partikel berukuran koloid digumpalkan dengan penambahan elektrolit.

3.   3.   Tahapan Sekunder
Tagapan ini dibagi menjadi 2 yaitu :
a)      Tahap Aerasi ( metode lumpur aktif)
Aerasi oksigen ditambahkan ke dalam air limbah yang sudah di campur lumpur aktif, materi organik dan anorganik kemudian diuraikan menjadi senyawa yang mudah menguap (sehingga mengurangi bau air limbah).
b)      Pengendapan
Lumpur aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya di buang. Lumpur yang mengendap disebut “Lumpur Bulki
4.    4. Tahap Tersier (pilihan)
Memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah ingkungan.
Contoh :
Ø  Amonia (NH3/NH4) à Nitrat (NO3)
Ø  Penyaringan mikro untuk memisahkan partikel kecil (bakteri/virus)
Ø  Pemisahan fosfor
2NH4(aq) + 3O2 (g) → 2NO (g) + 2 H2O (l) + 4H+ (aq)
2NO2– (aq) + O2 (g) → 2NO3 (aq)

                        Kemudian nitrat mengalami reduksi menjadi gas N2, NO, serta NO2 yang disebut dengan proses denitrifikasi. Setelah itu fosfor dipisahkan dengan proses koagulasi menggunakan garal Ca dan Al sehingga dihasilkan gumpalan.
Pada tahap ini zat pencemar diadsorpsi dari limbah, termasuk juga bau yang tidak sedap dan pewarna dari limbah itu sendiri. Setelah itu dilakukan juga penyerapan dan penyaringan partikel yang lebih kecil seperti bakteri dan virus sehingga limbah cair dapat dibuang dan aman bagi lingkungan.
5.  5.   Disinfetan
Menghilangkan mikroorganisme seperti virus serta materi organik penyebab bau dan warna. Air yang keluar dari tahap ini dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan industri.

6.  6.  Pengolahan Padat Lumpur
Padatan lumpur ini dapat diuraikan bakteri aerobik atau anaerobik
è Menghasilkan gas CH4 untuk bahan bakar dan pupuk
Kelemahan:
a.    A. Memerlukan area yang luas, karena prosesna berlangsung lama.
b.    B. Menimbulkan limbah baru, yaitu “lumpur bulki”.
c.    C. Prosesnya rumit karena membutuhkan pengawasan ketat.
       

     Sekian dari saya, jika ada kesalahan maklumi saja, karena pemula.... Wk :)




      Sumber: https://prezi.com/feqt-tr1h8sl/penerapan-reaksi-redoks-dalam-pengolahan-limbah-lumpur-akti/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar